Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Peringatan Dini Gempa-Tsunami Kini Maksimum 3 Menit dengan Akurasi Lebih dari 90%

×

Peringatan Dini Gempa-Tsunami Kini Maksimum 3 Menit dengan Akurasi Lebih dari 90%

Sebarkan artikel ini
peringatan dini gempa tsunami
Closing Ceremony Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRIP) | foto dok. BMKG

Jakarta, QolamNews Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan sistem peringatan dini gempa dan tsunami Indonesia kini hanya memerlukan waktu maksimum tiga menit untuk mengirimkan peringatan, dengan akurasi lebih dari 90 persen.

Peningkatan ini disampaikan dalam acara penutupan proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRIP) yang digelar oleh BNPB.

Sebelumnya, sistem peringatan dini membutuhkan waktu hingga lima menit.

Melalui proyek IDRIP, BMKG berhasil mempercepat pemrosesan data dan distribusi informasi.

Dwikorita menjelaskan, “Kini peringatan dini dapat keluar dalam dua hingga tiga menit, lebih cepat dari sebelumnya.”

Teknologi MHEWS dan Superkomputer SMONG

Peningkatan kecepatan ini terjadi berkat penerapan Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) yang terintegrasi dengan sistem seismologi dan tsunami.

Pusat utama berada di Kemayoran, Jakarta, dengan pusat cadangan di Denpasar, Bali. Sistem baru ini memastikan alur informasi dari hulu ke hilir berjalan lebih efisien.

BMKG juga menggunakan superkomputer SMONG (Supercomputer for Multi-hazards Operations and Numerical Modelling) untuk mendukung perhitungan cepat.

Komputer ini termasuk dalam 500 superkomputer terbaik dunia. “Superkomputer ini mempercepat analisis gempa dan tsunami,” kata Dwikorita.

Penguatan SDM dan Koordinasi Nasional

Selain teknologi, BMKG memperkuat sumber daya manusia (SDM). Lebih dari 40 pelatihan telah dilaksanakan dengan melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai instansi dan daerah.

Baca Juga  Gempa Bumi Magnitudo 4.8 Guncang Kota Tarakan Hari Ini, BMKG : Tidak Berpotensi Tsunami

Pelatihan ini meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana di wilayah rawan.

BNPB menekankan bahwa proyek IDRIP merupakan hasil pembelajaran dari berbagai bencana besar seperti gempa NTB, Palu–Donggala, dan tsunami Selat Sunda.

Program ini memperkuat sistem peralatan, kapasitas SDM, serta kesiapsiagaan masyarakat di daerah berisiko tinggi.

Sinergi BMKG dan BNPB untuk Masyarakat Aman

Kini, arus informasi dari BMKG ke Pusat Kendali Operasi (Pusdalops) pusat dan daerah berjalan lebih cepat dan terstandar.

Informasi juga menjangkau desa tangguh bencana melalui sirene dan latihan evakuasi rutin. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan, “Bencana tidak dapat dihentikan, tetapi risikonya bisa kita kurangi.”

Baca Juga  BMKG Pantau Dua Bibit Siklon Tropis, Waspada Cuaca Ekstrem di Berbagai Wilayah Indonesia

Proyek IDRIP melibatkan BNPB sebagai pelaksana utama dan BMKG sebagai pelaksana teknis, dengan dukungan Bank Dunia, sejumlah kementerian, dan pemerintah daerah.Program ini menekankan transparansi, evaluasi berkelanjutan, serta kolaborasi antar-lembaga.

Menuju Early Warning for All

Dengan sistem peringatan dini yang lebih cepat dan akurat, BMKG dan BNPB berharap dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa serta meminimalkan dampak bencana.

Dwikorita menutup acara dengan ajakan kolaboratif: “Mari kita perkuat Early Warning for All dan Early Action by All agar peringatan dini benar-benar menyelamatkan nyawa.”